Search

Nama : Yoga Prasetyo

NRP  : F34100053

Laskar 26

Di sekolah saya yaitu sman 68 jakarta,saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler marching band. Marching band di sekolah saya sungguh menarik, karena kami sering mengikuti ajang di beberapa lomba dan event. Lomba yang paling sering kami ikuti adalah  darrunajah marching band competition (DMC). DMC merupakan ajang kompetisi marching band bertaraf nasional dan tentu saja suatu kebanggan jika memenangkannya. Waktu saya kelas dua sma saya menjadi panitia inti lomba DMC, yaitu sebagai dana. Dana merupakan hal yang paling kendala dalam lomba, karena untuk mengikuti lomba kami membutuhkan uang puluhan juta. Uang tersebut digunakan untuk berbagai keperluan seperti, membeli alat, transportasi, konsumsi, peminjaman alat dll. Untuk mendapatkan uang puluhan juta pun juga tidak mudah karena saat itu uang di kas hanya sekitar 8 juta. Kami selaku panitia dana sungguh bingung bagaimana cara mengatasi dana yang banyak itu terpenuhi. Sesungguhnya dana yang akan dibutuhkan sekitar 18 juta saat itu.

Kami akhirnya melakukan berbagai cara yaitu dengan berjualan di sekolah. Memang hal itu bukan senjata pamungkas kami dalam memenuhi dana. Saat itu saya mengusulkan berjualan coklat dengan berbagai varian seperti mint,vanilla,stroberi. Harga yang kami tawarkan kepada teman-teman yaitu sekitar Rp.3000-Rp.5000. Untung saja teman-teman sangat kooperatif dalam usaha kami, karena tiap harinya mereka mau membeli,walaupun tak jarang mereka ada yang tidak mau membeli karena harga yang relative mahal untuk ukuran pelajar sma. Selain coklat, kami juga berjualan berbagai gorengan. Kali ini target yang kami tuju adalah guru. Harga yang kami tawarkan gorengan per satuannya sekitar Rp.1000-Rp.2.000. Untungnya guru-guru juga ingin membeli gorengan kami dalam jumlah yang banyak. Tak jarang mereka membeli gorengan kami dalam jumlah ratusan. Selain itu saya dan teman-teman juga mempuyai inovasi baru yaitu membuat jelly. Jelly tersebut kami kemas dalam bentuk telur, yang kami sebut jelor. Jelor tersebut kami bentuk seperti bentuk sate. Kami juga membuat berbagai rasa seperti coklat, anggur, stroberi, jeruk,dll. Agar banyak yang membeli kami menjualnya dalam keadaan dingin. Kami membawa tempat yang besar seperti baskom dan es. Harga yang kami tawarkan yaitu hanya seribu rupiah. Jelor merupakan hal yang paling diminati oleh teman-teman karena rasa yang enak dan masih dalam keadaan dingin. Dari usaha penjualan gorengan, coklat, dan jelor, kami dapat mengumpulkan uang lima juta rupiah.

Kendala yang kami alami saat berjualan di sekolah adalah larangan siswa berjualan di sekolah. Jadi, kami melanggar aturan sekolah yang ada. Pada awalnya guru-guru menentang keras dengan program kami . mereka sangat takut, kami tidak fokus dalam belajar. Tapi karena kebutuhan yang sangat mendesak, kami berusaha meyakinkan mereka bahwa prestasi kami tidak akan turun. Akhirnya guru-guru pun mengerti dengan kondisi yang kami alami.

Dana yang sudah kita dapatkan baru mencapai 13 juta, yang berarti masih kurang lima juta. Lalu kami akhirnya mengajukan proposal kepada beberapa perusahaan. Jasa yang kami tawarkan adalah apabila dia memilih program gold berarti perusahaan tersebut harus menyumbang uang lima juta rupiah, sebagai gantinya kami membuat spanduk yang akan di pasang di bus dan pembuatan logo di baju panitia. Apabila perusahaan tersebut memilih program silver, berarti perusahaan tersebut harus menyumbang uang tiga juta,sebagai gantinya kami akan membuat logo di baju panitia. Akhirnya setelah beberapa perusahaan yang kami kunjungi akhirnya, ada dua perusahaan yang ingin menyumbang di program gold dan silver, yang berarti kami mendapatkan uang 8 juta dari dua perusahaan tersebut.

Dari semua usaha yang kami jalankan,akhirnya kami mendapatkan uang 21 juta rupiah. Sungguh, usaha yang kami jalankan tidak semudah yang kami pikirkan. Kami harus mengorbankan waktu dan energi yang sangat berharga. Tak jarang kami bolos sekolah untuk mencari dana. Tak jarang pula kami tetap berjualan, padahal saat itu sedang ada pekan ulangan. Walaupun nilai kami saat itu agak mengalami penurunan, namun kami bangga, kami masih bisa mencukupi dana untuk lomba nasional tersebut.

Penemu Bakteri Kompos Organik

AYUB S. PARNATA

Walau usia sudah mencapai 72 tahun, Ayub S. Parnata seakan tak pernah kehilangan semangat. Di tengah kesibukannya mengurus anggrek, setiap bulannya ia rutin mengirim minimal 2 kontainer pupuk organik ke Cina. Jumlah itu masih ditambah dengan ½ kontainer untuk melayani permintaan dalam negri. Kalau dihitung-hitung, sekitar 64 ton pupuk cair disalurkan tiap bulan. Bersama mitra kerja asal Hongkong, Ayub mempunyai pabrik peracikan pupuk di Cina Selatan. Di sana, biang pupuk organik yang dibuat di Indonesia diubah menjadi pupuk siap pakai. Lalu dieskpor kembali ke beberapa negara di Asia, Australia dan Amerika Serikat. Di Asia, pelanggannya datang dari Filipina, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Mongolia. Permintaan konsumen terus meningkat. Peningkatan 100% per tahun untuk pasaran luar negri dan 20% dalam negri.

Keberhasilan itu bukan datang sendiri layaknya bintang jatuh. Kisahnya dimulai 1960. Saat itu, Ayub mencoba bercocok tanam jagung. Sayang produksinya amat minim, tidak sampai 750 kg/ha. Kenyataan ini menggelitik lulusan Hogere Burgerschool itu untuk meneliti penyebabnya. Hasil pengamatannya menunjukkan, penyebab produksi minim karena efek samping penggunaan kimia dari pupuk yang tidak terserap efektif oleh tanaman sehingga hanya tersimpan di dalam tanah. Untuk menguraikan lagi, harus dengan bantuan jasad renik. Dari hasil analisis, diketahui pada tanah subur selalu ditemukan Pseudomonas putida dan Pseudomonas fluorescens. Dua jasad renik itulah yang harus didapatkan untuk dimasukkan ke tanah yang rusak. Pencarian jenis jasad renik itulah yang memakan waktu lama. Mencari di alam hingga membiakkan dengan media agar (jel) bukanlah proses mudah. “Seperti orang buta yang mencari-cari, tanpa ada satu buku pun yang menuntun”, ujar Ayub melukiskan betapa sulitnya pencarian itu.

Setelah jasad renik berhasil dibiakkan, menentukan formulasi pupuk yang tepat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai komposisi dicoba dan hasilnya kebanyakan gagal. Misal ketika diujicobakan ke suatu lahan padi, bukannya menjadi subur, tanaman malah hangus terbakar. Begitu pun ketika diuji pada bunga kesayangan, anggrek. Si cantik eksklusif itu daunnya berguguran satu-per satu.

Mirip Thomas Alva Edison yang tak pernah berhenti meneliti sampai berhasil, Ayub tidak berputus asa terhadap kegagalan yang ditemui. Penyilang 10.100 anggrek itu terus mencari jalan untuk memperbaiki penemuannya. Kerja kerasnya baru terbayar setelah berkutat 17 tahun. Ayub menemukan campuran pupuk yang tepat. Ramuan terbuat dari bahan-bahan organik dan mikroba-mikroba menguntungkan. Pertama kali dicobakan pada lahan jagung, hasilnya menakjubkan. Produksi yang semula hanya 600 kg/ha, meningkat pesat menjadi 8,5 ton. Tak heran jika Menteri Pertanian waktu itu tertarik berkunjung ke perkebunannya.

Ayub pun kian semangat meracik pupuk dari bahan-bahan organik yang mudah didapat dan berharga murah. Ikan laut, daging apkir atau limbah hewan digunakan. Bahan baku itu diperoleh dari daerah pesisir. Bila kekurangan, ia mengimpor dari Cili dan Denmark. Investasi yang dikeluarkan tidak main-main. Empat rumah miliknya direlakan dijual untuk melengkapi sarana produksi.

Namun rupanya perjuangan belum usai. Memasuki awal 90-an, Ayub mencoba untuk memasarkan produk bermerk Top Soil Fertilizer di Jawa Barat. Diharapkan pupuk itu bisa membantu para pekebun di sana untuk meningkatkan produksi. Namun pil pahit harus ditelan ketika niatan itu terbentur urusan perizinan. Maklum, waktu itu pupuk organik memang belum populer. Pupuk kimia yang jadi primadona. Ia pun urung memasarkan di dalam negri.

Kegagalannya tak membuatnya berhenti berkarya. Berbekal keyakinan bahwa pupuk organik memiliki keistimewaan, pasar luar negri pun dijajaki. Bersama rekan kerja di Hongkong, ia memilih Cina sebagai sasaran pertama. Pertimbangannya, sebagai negara berpenduduk terbesar di dunia, peluang pasar terbuka lebar. Izin peredaran diperoleh dari Beijing University.

Ternyata sambutan penduduk di negri tirai bambu itu luar biasa. Malah pria yang gemar berkemeja batik ini mendapat tawaran maha berat. Ia diminta bekerja sama dengan para pakar di Universitas Beijing untuk mengembangkan formula. Bila diterima, rakyat Cina-lah yang menikmati penemuannya. Rasa nasionalismenya menuntun Ayub menolak tawaran itu.

Tahun pertama sejak mendapat izin ekspor pada 1991, ia mengirim 10 kontainer biang pupuk ke pabrik perakitan di Cina. Di sana biang itu diencerkan sampai 5% sebelum dipasarkan. Volume pengiriman terus meningkat dari waktu ke waktu hingga 100% pada 2003.

Pertengahan 1995, pabrik perakitan itu kedatangan tamu kehormatan, Menteri Pertanian Thailand. Rupanya pupuk organik karya Ayub berhasil mengatasi penyakit busuk buah dan busuk akar pada durian akibat pengaruh kimia. Setahun berikutnya, giliran Menteri Pertanian Malaysia datang. Lagi-lagi berkat hasil spektakuler pemanfaatan pupuk organik itu di perkebunan karet di Malaysia. Karet terus menghasilkan getah meski telah 20 tahun berproduksi.

Kegagalan memperoleh perizinan usaha di dalam negri 8 tahun silam tak membuatnya jera. Uji coba yang dilakukan selama 2 bulan oleh Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) di Lembang, Bandung, menunjukkan hasil memuaskan. Perjuangan itu akhirnya berbuah dikeluarkannya izin dari pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian pada 1999.

Pasa di dalam negri mulai dirambah. Melalui agen di Yogyakarta dan Sumedang, pupuknya menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Di antaranya, Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Kerjasama dengan Pusat Koperasi Veteran (Puskoveri) Jawa Barat dalam memasarkan pun terus dibina.

Untuk memenuhi permintaan dalam dan luar negri, rumah sang kakek yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Bandung, dijadikan pabrik. Semua bahan baku dan alat-alat produksi menempati belasan ruangan di dalamnya. Di situlah Ayub membuat formula pupuk pesanan para relasi dibantu tiga orang rekannya. Pupuk berbentuk cair lebih dipilih Ayub karena dalam bentuk itu jasad renik mampu bertahan hidup hingga ratusan tahun. Sebaliknya, dalam bentuk padat, fungsi jasad renik berkurang, bahkan mati.

Pupuk organik Ayub tidak hanya meningkatkan produksi tumbuhan. Tanpa mengubah komposisinya, ia bisa diterapkan pada ternak, ikan atau udang. Penelitian di Universitas Gadjah Mada pada 2002 menunjukkan, pupuk itu efektif memberantas newcastle disease (ND) pada ayam. Penelitian ini juga mengungkapkan peningkatan keuntungan peternak dari Rp 400.000,- / ekor menjadi Rp 1.750.000,- / ekor.

Kontribusinya di dunia anggrek yang lama Ayub geluti pun tak kalah besar. Phalaenopsis miliknya bisa menghasilkan 17 tangkai bunga per satu tanaman. Buah dari semua itu, penghargaan sebagai mitra kerja berprestasi Dinas Pertanian Jawa Barat dari Menteri Pertanian RI diterimanya pada 2002. Meski demikian, bukan itu semata yang ia kejar. Dampak positif pemanfaatan pupuk organik dalam dunia pertanian Indonesia menjadi terminalnya. Bagi Ayub, prospek cerah pupuk organik membentang di masa mendatang.